MEDAN, NHB NEWS.COM – Kolaborasi strategis antara Jerman dan Indonesia untuk mendorong pembangunan berkelanjutan di Sumatera Utara menjadi sorotan dalam International Seminar bertajuk “Bridging Excellence: German-Indonesian Collaboration for Sustainable Development in North Sumatera” yang digelar di Medan, Jumat (24/10/2026).
Seminar internasional yang diinisiasi oleh ALJERIN (Alumni Jerman Indonesia) Sumatera Utara ini menghadirkan lima narasumber kompeten dari dua negara. Mereka membahas penguatan kerja sama di bidang pendidikan, teknologi hijau, energi terbarukan, dan pengembangan sumber daya manusia.
Acara yang berlangsung di salah satu hotel berbintang di Kota Medan ini dihadiri oleh akademisi, mahasiswa, perwakilan pemerintah daerah, pelaku industri, serta alumni Jerman yang berkiprah di Sumatera Utara.
Antusiasme peserta terlihat tinggi dalam sesi diskusi yang berlangsung interaktif.Ketua ALJERIN Sumut dalam sambutannya menyampaikan bahwa Jerman merupakan salah satu mitra strategis Indonesia, khususnya dalam transfer teknologi dan pendidikan vokasi.
Menurutnya, Sumatera Utara memiliki potensi besar yang dapat dikembangkan melalui kolaborasi berkelanjutan.”Tema Bridging Excellence ini bukan sekadar jargon.
Kita ingin menjembatani keunggulan yang dimiliki Jerman dalam teknologi dan sistem pendidikan dengan potensi luar biasa yang dimiliki Sumatera Utara.
Mulai dari sektor perkebunan berkelanjutan, energi hijau, hingga pengelolaan sampah,” ujarnya.Salah satu narasumber dari Jerman yang hadir secara langsung memaparkan pengalaman Jerman dalam membangun ekosistem pembangunan berkelanjutan.
Ia menekankan pentingnya sinergi antara universitas, industri, dan pemerintah atau yang dikenal dengan triple helix.”Kami melihat Medan dan Sumatera Utara memiliki peluang besar untuk menjadi model pembangunan berkelanjutan di Indonesia bagian barat.
Kuncinya ada pada pendidikan vokasi yang kuat dan kemauan untuk berinovasi,” kata narasumber tersebut dalam paparannya.Sementara itu, narasumber dari Indonesia menyoroti tantangan pembangunan di Sumatera Utara, seperti alih fungsi lahan, kebutuhan energi yang terus meningkat, dan pentingnya hilirisasi produk perkebunan.
Kolaborasi dengan Jerman diharapkan mampu memberikan solusi konkret dan aplikatif.”Kerja sama ini tidak hanya soal beasiswa ke Jerman, tetapi bagaimana ilmu yang didapat di Jerman bisa diterapkan untuk menyelesaikan masalah lokal di Sumut.
Seperti teknologi pengolahan sawit berkelanjutan, energi biomassa, dan pengembangan UMKM berbasis teknologi,” jelasnya.Dalam sesi panel, kelima narasumber sepakat bahwa keberlanjutan harus menjadi fondasi utama pembangunan Sumatera Utara ke depan.
Mereka mendorong adanya program pertukaran pelajar, riset bersama antara Universitas di Medan dengan universitas di Jerman, serta pembentukan pusat inovasi Jerman-Indonesia di Medan.
Diskusi juga membahas peluang investasi Jerman di Sumatera Utara. Dengan posisi strategis Medan sebagai pintu gerbang Indonesia bagian barat, banyak sektor yang dinilai menarik bagi investor Jerman, termasuk sektor energi terbarukan, transportasi ramah lingkungan, dan industri kreatif.
Acara diakhiri dengan sesi foto bersama kelima narasumber dan penandatanganan komitmen bersama untuk terus mendorong kolaborasi German-Indonesian di Sumatera Utara. Para peserta berharap seminar ini tidak berhenti sebagai diskusi, melainkan berlanjut menjadi aksi nyata.
ALJERIN Sumut berkomitmen untuk menjadi jembatan penghubung antara alumni Jerman, pemerintah daerah, dan mitra dari Jerman untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang inklusif dan berdaya saing global di Sumatera Utara.
Hingga berita ini diturunkan, ALJERIN Sumut berencana akan menindaklanjuti hasil seminar ini dengan roadshow ke beberapa kampus di Medan dan audiensi dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.
Penulis: Redaksi NHBNEWS.COM
